Kuansing Targetkan Kesejahteraan Masyarakat dari Pacu Jalur
Siberriau-TELUK KUANTAN- Pemkab Kuantan Singingi menargetkan kesejahtaraan masyarakat dari pacu jalur. Kesejahtaraan itu secara bertahap diawali budaya lestari, pariwisata maju, ekonomi bangkit sampai masyarakat sejahtera.
Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby kepada sejumlah wartawan belum lama ini memiliki konsep budaya lestari. Setelah budaya lestari, dia ingin pariwisata maju, disusul ekonomi bangkit dan bermuara masyarakat sejahtera. “Kita ingin budaya pacu jalur ini lestari, pariwisata maju, ekonomi bangkit dan masyarakat sejahtera,” tegasnya.
Ketegasan itu dijabarkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuantan Singingi, Azhar dalam eksposenya, sejumlah terobosan telah dilakukan, sesuai impian Bupati Suhardiman Amby.
Budaya Lestari
Bebis Arianto dalam penelitiannya berjudul Dampak Event Pacu Jalur Dalam Pelestarian Nilai-nilai Budaya Mayarakat Kuantan Singingi menyimpulkan, terdapat lima Dampak Event Pacu Jalur dalam Pelestarian Nilai Budaya Masyarakat Kuantan Singingi, diantaranya, yaitu (1) Maelo Jalur, (2) Melayur Jalur, (3) Tari Jalur, (4) Seni Kriya Miniatur Jalur, (5) Batik Khas Kuansing dengan motif Jalur dan dayung, serta kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang Dampak Event Pacu Jalur yang harus dijaga dan dilestarikan nilai budayanya. (Bebis Arianto, 2022)
Akibat adanya pacu jalur, sejumlah atraksi unik masyarakat di berbagai kecamatan juga muncul. Salah satunya Tari Payuang Burondo. Emilda Wela dalam penelitiannya berjudul Tari Payuang Burondo pada Acara Pacu Jalur di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau menyimpulkan, Tari Payuang Burondo yang memiliki unsur-unsur gerak, musik, desain lantai, desain dramatik, dinamika, komposisi kelompok, kostum, tata rias, properti, panggung dan pencahayaan.
Gerak dasar tari ini, yaitu gayuang, tikam, popek, tenju, ayun payuang dan putar payuang. Musik yang digunakan iringan rarak yang terdiri dari Celempong 5, Gondang Panjang muko duo dan Gong.
Desain lantai vertikal atau lurus. Desain dramatik berbentuk kerucut tunggal. Dinamika level tinggi, level sedang, dan level rendah. Komposis kelompok yang digunakan, yaitu gerak berimbang, gerak serempak dan gerak terpecah.
Kostum penari adalah baju kebayah laboh. Rias penari menggunkan make up cantik. Properti yang digunakan Payuang atau payung. Panggung yang digunakan area terbuka atau alam terbuka.
Pencahayaan atau lighting tari Payuang Burondo tidak menggunakan lighting atau pencahayaan karena di tampilkan pada siang hari di alam terbuka. (Wela, 2024)
Dalam pada itu, dalam menjadikan pacu jalur budaya lestari, juga erat kaitannya dengan hutan tempat kayu jalur itu diambil. Salah satunya Hutan Lindung Sentajo. Pebriadi dalam penelitiannya berjudul Potensi Kayu untuk Tradisi Pacu Jalur di Hutan Lindung Sentajo, Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau menyimpulkan, jenis kayu yang dijadikan untuk pembuatan jalur yang diambil dari Hutan Lindung Sentajo diantaranya Meranti Batu (Parashorea aptera), Meranti Sabut (Shorea brachteolata), dan Balam Merah (Palaquium burckii). (Pebriandi et al., 2024).
Selain itu, potensi kayu berkualitas tinggi untuk berbagai kepentingan selama satu dekade terakhir ini sangat sulit diperoleh. Hal ini dikarenakan tingginya laju doforestasi dan degradasi hutan khususnya di Provinsi Riau. Contoh pemanfaatan kayu berkualitas tinggi khususnya di Provinsi Riau adalah sebagai bahan untuk membuat jalur dalam rangka pelestarian budaya pacu jalur di Kabupaten Kuantan Singingi.
Evi Sribudiani dalam penelitianya berjudul Sifat Fisis Kayu Berkualitas Rendah dari Riau Setelah Melalui Proses Pengawetan Pohon dengan Teknik Bandage dan Infus menyimpulkan terjadi perubahan kelas kuat kayu balam merah dan bintangur yang tumbuh di Riau dibandingkan dengan sumber yang diperoleh dari atlas kayu Indonesia. (Sribudiani et al., 2019)
Siberriau.com menganalisis, setiap jalur yang sudah dilayur atau dipanggang, harus dilakukan pengawetan yang ekstra ketat agar jalur tersebut awet karena jenis kayu yang ada terjadi perubahan kelas kuat kayu serta mencegah dari pelapukan serta serangan hama pengganggu kayu jalur lainnya.
Sementara itu Tim Forum Diskusi Keluarga Kuantan Singingi (FDKKS) Indonesia membuat kegiatan Curah Pikir Perantau Kuansing Dalam Rangka Baliak Basamo pada Moment Pacu Jalur 2024. Hal ini dilatarbelakngi nama Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), tidak terlepas dari keberadaan Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Sungai Kuantan mengalir sepanjang 500 km dari hulunya di wilayah Provinsi Sumatra Barat sampai ke muaranya di Selat Malaka. Sedangkan Sungai Singingi merupakan hulu dari Sungai Kampar di Kabupaten Kampar.
Sungai Kuantan mengaliri 10 dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Kuantan Singingi, sedangkan Sungai Singingi mengaliri dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Singingi dan Singingi Hilir. Dengan demikian, 80% wilayah Kabupaten Kuantan Singingi dialiri oleh sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Keberadaan dua sungai ini berimplikasi terhadap kehidupan masyarakatnya baik langsung maupun tidak langsung.
Secara umum bagi masyarakat, sungai memiliki multi fungsi; seperti prasara transportasi, sumber kebutuhan air, sumber pangan (gizi hewani), wadah perekonomian, dan dalam tingkatan tertentu (besar maupun kecil) dapat dikonversi menjadi sumber energi yang terbaharukan. Energi merupakan salah satu pilar pokok yang dibutuhkan untuk pembangunan suatu daerah. Dengan demikian, tidak salah dikatakan bahwa sungai memiliki fungsi sosial, ekonomi, budaya, bahkan keamanan bagi penduduk yang ada di wilayah daerah aliran sungai tersebut.
Besarnya fungsi sungai Kuantan dan Sungai Singingi juga terjadi pada masyarakat Kuantan Singingi. Pemukiman berawal dari pinggiran dua sungai ini. Dinamika sosial, budaya dan perekonomian masyarakat dipengaruhi oleh keberadaan kedua sungai ini.
Pacu Jalur misalnya, berupa perlombaan perahu/sampan khas yang saat ini menjadi event pesta budaya rakyat diadakan di sungai Kuantan. Selain itu, juga menjadi atraksi budaya unik yang menjadi unggulan pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi yang mesti dirawat supaya tetap menjadi aset daerah. Atraksi tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Sungai Kuantan. Merawat budaya pacu jalur, berarti perlu memelihara Sungai Kuantan.
Bila fungsinya terdegradasi, berimplikasi terhadap terganggunya beragam dinamika kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi.
Saat ini Sungai Kuantan berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Meluapnya air sungai/banjir makin sering, abrasi tebing/pinggiran sungai, sedimentasi akibat erosi, kegiatan PETI maupun pengambilan sirtukil, perilaku masyarakat membuang sampah dan limbah, menyebabkan Sungai Kuantan menderita. Penderitaan Sungai Kuantan berimplikasi langsung maupun tidak langsung terhadap kondisi sosial ekonomi serta budaya masyarakat, termasuk budaya atraksi Pacu Jalur.
Kondisi yang tidak baik-baik saja tersebut, didasarkan kepada hasil observasi dan beragam hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penelitian Hasibuan dkk (2020) tim peneliti di IPB misalnya menemukan kandungan Mercury (Hg) pada air sungai di hulu, tengah dan hilir, pada air sumur masyarakat di DAS dan pada sedimentasi sudah di atas kondisi normal pencemaran.
Dari latar belakang pemikiran yang diuraikan di atas, perantau dari Kabupaten Kuantan Singingi umumnya dan Forum Diskusi Keluarga Kuantan Singingi (FDKKS) khususnya berinisiatif untuk melakukan kegiatan menginventarisasi pemikiran dari para perantau bersama-sama dengan masyarakat, pemerintah daerah dan beragam pemangku kebijakan sektoral yang terkait tentang pemeliharaan kondisi Sungai Kuantan denganTema: Memelihara Sungai Kuantan Merawat Budaya Pacu Jalur Kuantan Singingi.
Kegiatan bertujuan untuk mendapatkan: 1. Informasi terkini tentang kondisi Sungai Kuantan beserta Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan. 2. Menjaring aspirasi tentang keinginan dan kebutuhan kondisi sungai beserta DAS Kuantan 3. Menginventarisir pemikiran dari beragam stake holders, tentang tata kelola sungai beserta DAS Kuantan agar ke depan bisa berobah dari kondisi yang tidak baik-baik saja ke kondisi yang lebih baik.
Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut: 1. Terjaringnya aspirasi masyarakat yang dapat digunakan sebagai pertimbangan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah dan Institusi yang relevan serta NGO untuk mengambil tindakan secara proporsional dalam melestarikan Sungai Kuantan dan budaya pacu jalur yang bermanfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.
2. Tersusunnya buah pikir dari beragam stakeholders tentang Sungai Kuantan dan pacu jalur secara terstruktur untuk dapat disumbangkan sebagai input berbagai program pembangunan bagi Pemerintah Daerah (kabupaten dan provinsi) serta level Nasional.
Pariwisata Maju
Strategi pengembangan wisata merupakan upaya yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dalam mengembangkan wisata yang ada agar menjadi suatu daya tarik bagi wisatawan, namun pengembangan wisata yang masih terdapat penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Kabupaten Kuantan Singingi.
Diana Tiara dalam penelitiannya berjudul Strategi Pengembangan Pariwisata Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi menunjukkan bahwa strategi Dinas Pariwisata dalam pengembangan Objek Wisata Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan melalui pengembangan sumber daya pariwisata, peningkatan daya tarik wisata, dan pemasaran pariwisata yang implementasinya belum optimal sehingga perlu ditingkatkan lagi agar mampu mengelola dan memberikan kemajuan terhadap pengembangan pariwisata di Kabupaten Kuantan Singingi.
Adapun faktor yang penghambat strategi pengembangan pariwisata, yakni anggaran dana, manusia, dan partisipasi masyarakat. Dalam Mengembangkan wisata diperlukan kerja sama agar terciptanya kesuksesan dalam pengembangan yang dilakukan dan juga pemerintah lebih memperhatikan kondisi objek wisata. (Diana Tiara, 2024)
Kemajuan terakhir pacu jalur, Bupati Kuansing Suhardiman Amby menyambangi kediaman Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka di Solo. Upaya ini meminta agar yang besangkutan untuk bisa hadir menyaksikan pacu jalur di Teluk Kuantan. Terobosan ini menjadi titik peningkatan promosi pariwisata pacu jalur. Kehadiran wapres terpilih tentu akan menjadi catatan sejarah pacu jalur dari masa ke masa.
Pacu jalur pernah diresmikan Wakil Presiden Yusuf Kalla ketika itu Kuansing Bupatinya Sukarmis. Gaungnya saat itu cukup besar, anak pacuan lebih bersemangat, pengunjung lebih membludak karena memang ingin melihat dari dekat wakil presiden ketika itu.
Ekonomi Bangkit
Pacu jalur diklaim membangkitkan perekomomian masyarakat Kuantan Singingi. Setelah gelegar dan kemeriah pacu jalur berhasil mendatangkan wisatawan, perputaran uang sangat banyak saat pacu jalur jalur. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah perputaran uangnya. Namun, sebagai ilustrasi, siberriau.com bersama dua orang wartawan Kuansing pada pacu jalulr tahun 2023, hari terakhir, usai menjalankan tugas liputan dari kantor PWI Kuansing hingga magrib berniat mencari makan malam. Namun, apa yang terjadi, sejumlah penjual makanan sekitar pinggir sungai mengaku dagangannya habis terjual. Kesulitan sekali mencari pedagang yang dagangannya masih tersisa. Namun karena gigih mencari, akhirnya berhasil menemukan semua warung makan di pinggir sungai (sekitar di tengah) yang masih ada menjual makanan, itupun hanya bersifat seperti mi rebus. Ternyata kondisi larisnya dagangan masyarakat hampir merata di setiap sudut Kota Teluk Kuantan.
Ini menggambarkan jika ada pacu jalur, ekonomi bangkit, pedangan yang ada, baik yang datang dari luar maupun masyarakat Kuansing sendiri, meraup keuntungan, dan akan memotivasi mereka untuk berdagang pada tahun berikutnya ketika ada pacu jalur.
Masyarakat Sejahtera
Wahyudi Indra ketika diwawancara Minggu (14/7/2024) di PemakamanTobek Godang Desa Koto Teluk Kuantan menerangkan kalau momen pacu jalur, dia membuat tribune sepanjang 10 meter. Tribune ini dimodali sekitar Rp25.000.000. Modal ini cukup besar karena membali kayu serta perlengkapan lainnya.
Berhasilkan meraup untung atau pundi-pundi rupiah? Wahyudi Indra mengaku mendapatkan untung yang cukup lumayan dan hasil dati tribune ini pada tahun 2023, bisa membawa keluarganya untuk jalan-jalan ke Sumatra Barat. “Ya, memang benar untungnya saya bersama keluarga bisa jalan-jalan ke Sumbar kalau tak dari tribune ini, tak mungkin terkumpul uang,” ucapnya polos.
Lebih perinci, Wahyudi Indra menjelaskan kalau pada hari pertama sampai hari ketiga, tiket masuk tribune dijual dengan harga Rp50.000, sedangkan untuk hari terakhir atau final, harga tiket Rp70.000, dengan total kapasistas tribune sebanyak 100 orang.
Beda dengan Wayudi Indra, Ii, warga Desa Sawah mengaku tidak berbuat apa-apa disaat momen pacu jalur. Dia hanya menyaksikan keramaian saja. “Dulu pernah buka parkir di depan kedai saya, sekarang tidak lagi,” katanya.
Dari potret dua warga Kecamatan Kuantan Tengah Kuansing tersebut, dapat disimpulkan, event pacu jalur sebagian masyarakat mengambil peluang untuk meningkatkan kesejahtaraan, sebagian lagi hanya sebagai penonton dan tidak berbuat apa-apa.
Berdasarkan analisis siberriau.com jika Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi ingin menargetkan kesejahtaraan dari pelaksanaan pacu jalur, harus memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mengambil peluang usaha karena sampai saat ini peluang usaha tersebut masih terbuka lebar, terutama disaat puncak pacu jalur bulan Agustus 2024 mendatang.
Memang beberapa atlet pacu berasal dari berbagai desa di Kuansing, mereka harus berjuang untuk memenangkan jalurnya, namun anak dan istri mereka juga tak pernah ketinggalan datang ke Teluk Kuantan, dan seharusnya mereka memanfaatkan momen ini.
Contoh sederhana jika suami mereka berpacu, sang istri bisa berjualan makanan khas kampung masing-masing. Kalau di kampung mereka terkenal dengan lemang, maka dibuat dan dijual di Teluk Kuantan jika kuliner di Cerenti umpanya terkenal dengan kue Cingkuak-Cingkuak, maka dijual di Teluk Kuantan.
Untuk beberapa desa seperti ekstransmigrasi yang belum memiliki jalur, kedatangan mereka ke Teluk Kuantan mestinya juga harus dimanfaatkan dengan memanfaatkan peluang ekonomi, di kawasan ini terkenal dengan perkebunan kelapa sawit, maka contoh konkret, mereka bisa membawa kerajinan berbahan lidi kelapa sawit.
Selain memotivasi masyarakat untuk mau memanfaatkan peluang ekonomi dari pacu jalur, pemerintah juga diharapkan memberi pelatihan kepada masyarakat untuk pelaku Usaka Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta masyarakat perkampungan untuk memajukan hasil produk kuliner serta kerajinan dimaksud.
Jika ini terwujud, masyarakat Kuantan Singingi tidak hanya menjadi mangsa bagi pedagang dari luar, melainkan masyarakat sudah menjadikan wisatawan dari luar daera h sebagai mangsa untuk meningkatkan kesejahteraan. (Noprio Sandi/LKJ Raja Ali Kelana).
- Pengumuman Hasil Seleksi SPMB SMP Pekanbaru Ditunda
- Publikasi Karya Ilmiah Populer: Saatnya Kampus Berbicara kepada Masyarakat
- Pemkab Siak Perkuat Mitigasi Hadapi Super El Nino
- Kafilah Kuansing Lolos ke Babak Semifinal dan Final MTQ
- Keramat Jubah Merah Juara Pacu Jalur Rayon II Kuansing
- Generasi Muda di Persimpangan: Bonus Demografi atau Bonus Pengangguran?
- Final Putaran Pertama Hari ke-4 Pacu Jalur Kuansing Berlangsung Seru

