FOMO dan Risiko Finansial: Tantangan Baru bagi Investor Muda

Ilustrasi. Foto: Fadhilah Nur Aisyah.

Fadhilah Nur Aisyah Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia

Di era media sosial dan aplikasi investasi yang makin mudah diakses telah mendorong banyak anak muda untuk mulai berinvestasi. Namun, seiring itu juga muncul fenomena Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut ketinggalan kesempatan yang membuat seseorang terburu-buru mengambil keputusan investasi. Sebuah studi menyimpulkan bahwa perilaku FOMO pada investor muda sering mendorong mereka “mengikuti orang lain” tanpa analisis mendalam. 
Contoh data konkret: di Inggris, regulator Financial Conduct Authority (FCA) menemukan bahwa lebih dari 51 % investor muda (usia 18-40) menaruh uang lebih banyak dari yang mereka rencanakan karena FOMO. 

Di Indonesia sendiri, survei oleh OCBC menunjukkan bahwa 80% anak muda (generasi muda) mengaku menghabiskan uang agar bisa menyesuaikan gaya hidup teman/keluarga, yang menjadi indikasi kuat bahwa FOMO bukan sekadar soal investasi, tetapi soal gaya hidup finansial juga. Jadi, FOMO bukan hanya takut melewatkan proyek investasi, tetapi bisa juga takut tertinggal dalam gaya hidup, dan keduanya bisa berimplikasi ke keputusan keuangan yang kurang matang.

Partisipasi investor muda dalam pasar finansial memang meningkat pesat, namun peningkatan ini tidak selalu diiringi dengan kesiapan yang memadai. Di Indonesia, data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kelompok usia di bawah 30 tahun mendominasi investor individu di pasar modal dengan persentase sekitar 55,38% dan total aset mencapai 50,75 triliun rupiah hingga Juni 2024 (Lembaga KITA). Secara global, laporan dari CFA Institute Research and Policy Center juga mencatat bahwa banyak Gen Z yang memulai investasi di usia sangat muda, bahkan 25% investor Gen Z di Amerika Serikat sudah mulai berinvestasi sebelum usia 18 tahun. 

Namun, studi yang dilakukan oleh IAIN Metro Digital Repository menemukan bahwa sebagian investor muda justru terdorong oleh perilaku FOMO (Fear of Missing Out), yang membuat mereka cenderung mengambil keputusan impulsif dan kurang matang, seperti menjual aset saat harga turun atau membeli instrumen spekulatif hanya karena sedang viral tanpa analisis mendalam. Dari berbagai data ini, tampak jelas bahwa meningkatnya partisipasi generasi muda dalam investasi perlu diimbangi dengan pemahaman dan edukasi finansial yang baik karena jika keputusan diambil hanya berdasarkan emosi dan tren, potensi kerugian dan kesalahan finansial juga akan meningkat.

Berdasarkan data dan mekanisme yang ada, terdapat beberapa langkah penting agar Gen Z dapat berinvestasi dengan lebih bijak dan terhindar dari jebakan FOMO. Pertama, penting untuk mempelajari terlebih dahulu instrumen investasi yang akan dipilih dengan memahami profil risiko, tujuan, dan mekanisme kerjanya. Kedua, buatlah rencana dan strategi investasi yang jelas, mulai dari alokasi modal, jangka waktu investasi hingga batas kerugian yang bisa ditoleransi. Selain itu, hindari keputusan investasi hanya karena tren atau viral di media sosial sebab hype yang digerakkan oleh media bisa berubah cepat dan tidak selalu mencerminkan nilai fundamental suatu aset. 

Selanjutnya, bangun literasi finansial karena banyak risiko justru muncul akibat kurangnya pemahaman dasar tentang keuangan dan investasi (SSRN). Terakhir, gunakan platform investasi yang resmi dan tepercaya, serta waspadai tawaran investasi dengan janji “cuan cepat” sebagaimana telah diingatkan oleh regulator seperti Financial Conduct Authority (FCA) di Inggris agar investor muda lebih berhati-hati terhadap produk berisiko tinggi yang hanya mengandalkan popularitas.

Bagi generasi muda, termasuk Gen Z — kondisi sekarang adalah peluang besar: akses ke investasi lebih mudah, aplikasi keuangan makin terjangkau, dan informasi tersedia luas. Namun, seperti data menunjukkan, tantangan besar juga mengintai: FOMO sebagai dorongan emosional bisa membuat keputusan investasi yang kurang matang dan berisiko.

Dengan memahami bahwa investasi bukan sekadar mengejar tren, tetapi membangun kekayaan secara berkelanjutan, Gen Z bisa mengubah tantangan menjadi keunggulan. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang mulai duluan yang menang, tetapi siapa yang mulai dengan pemahaman dan konsistensi.

 

TERKAIT