Hadapi Musim Tanam 2025 dan 2026, Petani Kuantan Mudik Mulai Turun ke Sawah

Hamparan sawah di Desa Kinali Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi. Foto: Zar.

Kuansing, Siberriau- Menghadapi musim tanam 2025/2026, sebagian petani Kecamatan Kuantan Mudik yang berada di hamparan persawahan Desa Kinali, Aur Duri dan Bukit Kauman telah mulai turun ke sawah untuk melakukan pembenihan. Sedangkan petani hamparan persawahan Desa Pebaun Hilir, Pebaun Hulu dan Saik telah selesai melakukan penanaman padi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kuantan Singingi Deflides Gusni melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan Yeyendra mengakui kalau saat ini sebagian petani di Kecamatan Kuantan Mudik melakukan penanaman padi.

"Namun, luas areal yang dapat ditanami masih terbatas, di mana luas lahan di Desa Bukit Kauman sekitar 31 hektare, Kinali 69 hektare, dan Aur Duri 18 hektare. Total keseluruhan mencapai sekitar 118 hektare, jauh lebih kecil dibanding potensi luas tanam biasanya," ujarnya kepada Media siberriau.com, Selasa (9/12/2025) sore.

Mengenai sarana produksi pertanian, memang masih belum sepenuhnya memadai. Namun, pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan kelompok tani dan gabungan kelompok tani.

"Dukungan diberikan melalui berbagai sumber pembiayaan, mulai dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi hingga APBN," ujarnya.

Selain itu, katanya, petani juga diharapkan dapat mengoptimalkan Alat Mesin Pertanian (Alsintan) pasca panen yang sudah ada, seperti power thresher di Kinali yang berasal dari APBD Provinsi 2021 dan satu unit power thresher dari APBD Kuansing 2024.

Dirinya juga menyebutkan bahwa perubahan pola tanam tidak terlepas dari kondisi iklim yang terjadi tahun ini. Sejak Juni hingga September, curah hujan tercatat sangat rendah sehingga banyak petani menunda masa tanam hingga Oktober. 

Bahkan, beberapa hamparan, seperti di Kinali, baru dapat memulai pertanaman pada bulan Desember akibat minimnya air dan kondisi sawah yang masih kering," sebutnya.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, baik secara langsung maupun melalui penyuluh, terus memberikan dorongan dan motivasi kepada petani untuk meningkatkan luas tanam. Termasuk mendorong penerapan IP200 atau tanam dua kali setahun," ujarnya lagi.

"Pada tahun 2024, hamparan sawah di Kinali, Pebaun, Saik, dan Banjar Guntung berhasil melaksanakan IP200, dengan dukungan benih, dolomit, dan pupuk organik dari program provinsi," jelasnya.

Namun, untuk tahun 2025, hamparan sawah di Kinali, Aur Duri, dan Bukit Kauman tidak melaksanakan IP200. Konsekuensinya, wilayah tersebut tidak masuk dalam prioritas penerima bantuan kegiatan karena bantuan hanya difokuskan kepada kelompok yang melaksanakan pola tanam dua kali setahun.

Untuk menunjang kebutuhan air, tambahnya, pemerintah juga melaksanakan program pengairan melalui APBN. Bukit Kauman mendapatkan bantuan pompanisasi 6 inci, Aur Duri memperoleh pompa 4 inci, sementara Kinali didukung dengan empat unit pompa berukuran 3 inci. 

"Bantuan ini diharapkan mampu menambah debit air di lahan pertanian, yang selama beberapa bulan terakhir terdampak kekeringan," paparnya.

Sedangkan target tanam yang sudah disusun bersama Penyuluh dan TNI, seluas 6.376 hektare sampai dengan saat ini baru terealisasi seluas 5.030 hektare.

"Luas panen sampai dengan saat ini 5.143 hektare, dengan produktivitas rata-rata 5,27 ton/hektare Gabah Kering Panen (GKP) atau 4,7 ton/hektare Gabah Kering Giling (GKG), sebenarnya sudah cukup tinggi secara rata-rata provinsi dan nasional,"  imbuhnya.

Dikatakannya, Seluruh daerah sudah melakukan pertanaman, target 6.376 hektare itu adalah beberapa daerah melaksanakan IP200, atau 2 x tanam, seperti di Benai.

"Kini melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kementerian Pekerjaan Umum, sedang dibangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di seluruh wilayah pertanian di Kuansing termasuk di Kecamatan Kuantan Mudik," tukasnya. (Zar).

 

TERKAIT